Bagiseorang pemula, sangat sulit mengidentifikasi ciri kondisi trance. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini, saya ingin menjelaskan ciri kondisi trance atau ciri orang masuk ke dalam kondisi hipnosis. Trance sendiri merupakan kondisi di mana pikiran Anda sangat fokus pada satu hal yang membuat Anda tidak sadar dengan situasi sekitar.
Karena membantu otak Anda untuk menyelaraskan dengan proses dan tahapan memasuki kondisi trance. Cara Mengatur Kondisi Mental Yang Tepat Untuk Self-Hypnosis. Tentu saja, tidak ada dua hari yang sama. Apa yang bekerja untuk Anda suatu hari, mungkin kurang kuat bekerja di hari lain, tergantung pada kondisi pikiran Anda. Anda akan lebih mudah
Memahamiciri Fisik TRANCE dalam Kajian Hipnotisme Anda akan melatih diri untuk peka terhadap keadaan Subjek yang dihipnotis dengan kemampuan observasi terhadap ciri-ciri trance atau keadaan terhipnotis. Pada materi ini pun anda akan memperkenalkan ciri - ciri seseorang yang sangat mudah sekali masuk ke dalam kondisi trance.cara_mensugesti
2 Waktu. Ada dua pilihan waktu perusahaan dalam memasuki pasar global. Pertama, menjadi pionir dalam sektor bisnis untuk masuk ke pasar global. Kedua, menunggu kompetitor masuk ke pasar global dan menganalisa kesuksesan dan kegagalannya. Semuanya memiliki pertimbangan masing-masing yang harus dipikirkan sebelum go international.
Kegiatanhypnosis sangat erat kaitannya dengan trance/trans. Bahkan dapat dikatakan hypnosis sendiri digunakan sebagai alat untuk membuata orang dapat memasuki keadaan trance. Oleh karena itulah, kemampuan atau kecakapan seorang hypnotist akan mudah diketahui dari cara ia membawa atau menggiring subyeknya masuk ke dalam kondisi hypnosis (trans).
Hipnoterapimerupakan salah satu cara yang sangat mudah, dan cepat menjangkau pikiran bawah sadar untuk kemudian menyembuhkan pikiran yang sakit. Itulah beberapa ciri-ciri seseorang yang telah memasuki kondisi trance. Tentu tidak semua ciri-ciri tersebut muncul dari setiap orang yang memasuki nya, terkadang hanya beberapa saja yang terlihat
Ternyataseseorang mudah terhipnosis saat dalam keadaan trance, yaitu ketika gelombang otak berada di antara alfa dan theta. Frekuensinya sekitar 8-12 Hz untuk alfa, serta 4-8 Hz untuk theta. Setelah sesi pre-talk dirasa sudah cukup, cara hipnotis cepat selanjutnya adalah membawa target memasuki tahap induction. Dalam tahapan ini, Anda akan
Inisituasi yang mudah sekali membawa orang memasuki trance dan melakukan tindakan-tindakan di luar kesadaran. Anda tahu, salah satu teknik paling manjur untuk membawa orang ke kondisi trance, yang dalam pertunjukan panggung anda lihat sebagai kondisi tidur, adalah membuat orang itu kebingungan.
Bergeraklahmelalui tahap-tahap yang telah dijelaskan di atas untuk mencapai trance secara perlahan, dengan berfokus untuk menenangkan tubuh Anda. Latihlah tubuh Anda memasuki kondisi seperti trance ini selama sekian hari sebelum Anda mencoba memperdalam tingkat trance atau mencoba berhubungan dengan alam gaib dengan cara apa pun. Anda harus
dyz5G. Di Indonesia, hipnosis masih banyak dipandang klenik. Sayangnya, adanya kondisi trance pada seseorang ini yang membuat seseorang seolah-oleh kesurupan. Memasuki kondisi trance harus sepenuhnya dikendalikan bagi seseorang yang ingin Anda akan bingung, kenapa orang yang dihipnosis bisa terlihat seolah-olah kesurupan? Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang ketika dihipnosis bisa melakukan hal-hal yang berlawanan dengan biasa orang tersebut Kondisi Trance Dalam Perspektif HipnosisApa yang dimaksud kondisi trance? Trance ada kalanya disebut dengan saat orang kesurupan. Sebenarnya, trance adalah suatu kondisi seseorang yang sepenuhnya dikendalikan oleh pikiran bawah sadar seseorang. Faktanya untuk mencapai kondisi trance dalam hipnosis tidak cukup bisa terjadi ketika berada pada gelombang antara alpa 6-12 hz dan beta theta 4-8 hz. Disisi lain, ada juga yang menyebutkan bahwa trance merupakan kondisi pikiran kosong pada seseorang. Namun apakah seseorang yang saat dihipnosis bisa mengosongkan pikirannya dengan seketika?Kondisi ini cukup bisa dilakukan namun harus dilakukan dalam keadaan benar-benar rileks. Sayangnya, setiap manusia memiliki kondisi yang dinamakan mind full ness. Apa itu mind full ness? Mindfullness bisa dikatakan juga adanya berbagai pikiran seseorang yang ada di dalam Mindfulness adalah suatu kondisi seseorang yang sadar akan sepenuhnya dengan yang dialaminya. Inilah alasan seseorang cukup sulit untuk dihipnosis hingga mencapai kondisi trance. Dalam dunia hipnoterapi, seorang hipnoterapis harus memahami kondisi seseorang trance sebenarnya bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika seseorang melamun, kondisi trance bisa saja terjadi. Sayangnya, ketika kondisi trance ini terjadi seseorang cukup sulit harus keluar terlebih ketika Masuk Kondisi Trance Dalam HipnosisUntuk memasuki kondisi trance, seseorang harus berada kondisi dimana pikirannya mudah dialihkan. Untuk memasuki kondisi ini, seperti halnya ketika seseorang yang akan dihipnosis yakni memahami struktur hypnosis yang ada. Berikut enam teknik untuk masuk dalam kondisi trance seseorang1. Fiksasi Mata Eye FixationPernahkah Anda melihat artis Uya Kuya ketika menghipnosis tamu dalam suatu acara miliknya? Biasanya Uya Kuya akan membuat seseorang masuk ke alam bawah sadarnya melalui objek tertentu seperti lilin atau tisu yang seseorang melihat suatu objek inilah yang disebut dengan fiksasi mata. Tujuannya adalah agar seseorang tersebut merasa lebih lelah dan lengah sehingga mudah masuk dalam kondisi trance Relaksasi atau Kelelahan Sistem Saraf Relaxation or Fatigue of Nervous SystemTeknik ini dilakukan secara berurutan dan berulang pada tubuh seseorang, yakni mulai dari kepala hingga kaki atau sebaliknya. Saat hal tersebut dilakukan, disertai dengan sugesti yang membuat seseorang lebih larut dan berada di kondisi rileks sehingga trance bisa mencapai Membingungkan Pikiran Mental ConfusionDalam kondisi tertentu, pelaku hipnosis akan memberikan input bersamaan ketika melakukan terapi. Hal ini bisa menyebabkan pikiran seseorang menjadi bingung dan tidak bisa mengatasinya karena beban yang Menyesatkan Pikiran Mental MisdirectionAda seorang pelaku hipnosis menggunakan teknik ini yang seolah-olah mengunci pikiran seseorang. Maksudnya adalah pikiran seseorang dikendalikan sehingga dia melakukan hal yang kurang saja ketika seseorang melihat kucing lalu terapi mengatakan bahwa ketika seseorang melihat kucing maka dia melihat singa. Lalu seorang tersebut ketakutan karena kondisi trance ini. Inilah teknik mental misdirection yang kadang perlu Kehilangan Keseimbangan Loss of EquilibriumUntuk memasuki kondisi trance memang membutuhkan kondisi seseorang lebih rileks baik pikirannya maupun fisiknya. Biasanya, pelaku hipnosis ini menggerakkan sebagian tubuh seseorang agar lebih rileks agar bisa masuk ke dalam kondisi Kejutan Sistem Saraf Shock of Nervous SystemKetika seseorang dalam kondisi sulit untuk dihipnosis dan harus melalui tahap trance, biasanya pelaku hipnosis akan memberikan kejutan yang mana kejutan ini dapat membingungkan pikiran seseorang. Sehingga akan memudahkan pelaku hipnosis masuk kondisi Gagalnya Masuk ke Kondisi TranceSebagai pelaku hipnosis, ada kalanya melakukan sebuah kegagalan ketika harus masuk dalam kondisi trance. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai macam dan umumnya oleh seseorang yang akan dihipnosis tersebut. Berikut faktor penyebab gagal induksi trance1. Pra Induksi yang BurukKondisi ini bisa saja terjadi karena pelaku hipnosis yang kurang memahami ciri-ciri seseorang ketika akan masuk ke dalam kondisi trance. Sehingga membuat pelaku hipnosis kurang sigap mengambil kondisi tersebut untuk melakukan Pemilihan Subjek uang SalahAda beberapa orang yang mudah untuk dihipnosis dan ada pula yang cukup sulit dihipnosis karena kondisi tertentu. Salah satunya adalah salah dalam memilih subjek yang bertujuan untuk membuat seseorang tersebut Kesadaran Seseorang Takut DihipnosisKetakutan ini lah adakalanya menyebabkan trance gagal sehingga dibutuhkan usaha lebih keras. Hal ini dikarenakan kondisi seseorang yang masih dalam keadaan sadar penuh namun takut akan dihipnosis seperti takut hilang kesadaran, takut melakukan hal-hal aneh, takut rahasia terbongkar, dan Kondisi Trance dalam HipnosisSeperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa seseorang ada kalanya cukup sulit memasuki kondisi trance karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Agar trance ini tidak gagal maka kenali ciri kondisi trance berikutMembesarnya pupil seseorangPandangan mata yang kosongOtot pada wajah yang mulai mengendurSuhu pada telapak tangan yang mulai berubah misalkan awalnya suhu hangat berubah menjadi dingin, begitu pula sebaliknyaKedipan mata seseorang yang mulai masuk trance mulai melemahNafasnya yang mulai melambatGerakannya mulai pelan atau malas gerakAdanya gerakan bola mata yang cepat atau justru diamDetak jantung yang mulai melambatPerhatian atau fokus seseorang yang semakin terpusatSeorang pelaku hipnosis atau hipnoterapis harus mengenali ciri-ciri ini dan sigap melakukan hipnosis agar bisa memasuki kondisi trance. Untuk memusatkan perhatian atau fokus seseorang salah satunya adalah menggunakan trance adalah musik yang digunakan untuk hipnosis dan cenderung memiliki irama yang pelan dan stabil. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa kondisi trance ketika tubuh serta pikiran orang lebih rileks akan mudah musik ini juga cukup banyak dilakukan oleh terapis karena dipandang lebih mudah dicerna seseorang. Selain itu, adakalanya hipnoterapis juga menginginkan seseorang terpusat pada suatu objek yang mana objek tersebut juga memiliki sebuah karena itu, proses hipnosis ini dilakukan secara sistematis dan terstruktur sehingga dapat mencapai kondisi tertentu dan masalah seseorang dapat diatasi dengan baik. Kondisi mental yang melemah cenderung membuat seseorang hilang fokus dan hipnosis dilakukan oleh hipnoterapis saja? Tidak melulu harus dilakukan seorang hipnoterapis, melainkan Anda sendiri pun bisa melakukannya. Bagaimana cara self hipnotis? Untuk melakukan self hipnotis, sebaiknya pilih tempat yang atur nafas, Anda bisa atur nafas dengan menghitungnya dan rasakan detak jantung diri sendiri. Kemudian bayangnya diri Anda misalkan di suatu tempat kemudian gunakan seluruh indra untuk kondisi trance memang cukup sulit namun akan terasa mudah ketika sudah mengetahui cara melakukannya, mengenali ciri-cirinya serta paham kondisi seseorang siap untuk
Ciri-ciri Trance – Halo sahabat setia master hipnosis! Bagaimana nih harinya? Semoga selalu baik-baik saja, ya. Jika sebelumnya Anda sudah belajar artikel tentang jenis-jenis trance, maka kali ini saya akan membagikan ciri-ciri kondisi trance yang bisa Anda lihat dengan mudah. Yuk, baca sampai akhir ’ Mengapa perlu mengetahui ciri-ciri kondisi trance ini? Dengan mengenali ciri-ciri trance maka Anda bisa mengetahui level trance seseorang, apakah sudah masuk kondisi deep trance. Karena pada fase ini merupakan kesempatan emas untuk menggali informasi. Ketika Anda mendapatkan informasi yang lengkap dari klien, Anda pun akan menemukan akar permasalahannya dengan muda. Sehingga nantinya akan mudah untuk memberi sugesti kepada klien. Umumnya, kondisi trance bisa Anda lihat dari tarikan nafas, ketegangan otot tubuh yang menurun, dan gerakan mata. Namun, kali ini saya akan menjelaskan lebih detailnya berdasarkan jenis trance dalam hipnosis. 1. Light Trance/ Trance Ringan Klien tidak mampu membuka mata. Dalam kondisi trance ringan, Anda bisa melihat klien tidak bisa membuka mata. Tangan terasa berat. Selain mata, Anda juga bisa melihat tangan klien mulai terasa berat. Anda bisa mengetesnya dengan memberi sugesti bahwa tangan klien mulai terasa berat. 2. Medium Trance/ Trance Menengah Mati rasa sebagian. Sesorang yang berada dalam kondisi medium trance, bagian tertentu dari tubuh mereka akan mati rasa. Lupa sebagian. Anda bisa memberi sugesti kepada seseorang untuk berhitung dan melupakan satu angka tertentu. Maka dalam kondisi medium trance, ia akan melupakan apa yang Anda perintahkan. Menerima sugesti sederhana. Seperti namanya, seseorang yang berada dalam kondisi medium trance hanya bisa menerima sugesti ringan. 3. Deep Trance/ Somnambulism Seseorang yang berada dalam kondisi somnambulism, ia akan mudah untuk menerima sugesti. Anda bisa melihat ciri-cirinya berikut ini Kelupaan sempurna Mati rasa sempurna Efek mati rasa setelah dihipnotis Mampu membuka mata namun masih trance Mampu menerima sugesti yang beragam 4. Profound Somnambulism Klien tidak melihat sesuatu yang sebenarnya ada. Dalam kondisi ini, Anda akan melihat seseorang terlalu fokus pada suatu hal yang mengakibatkan tidak melihat sesuatu yang sebenarnya ada. Contohnya saat menonton bioskop, seseorang akan fokus menonton sehingga tidak menyadari ada orang lain lewat di depan dia. Tidak merasakan apapun. Sama halnya dengan ciri sebelumnya, tingkat kefokusan seseorang akan membuat dia tidak merasakan apapun. 5. Hypno-Sleep Pada fase ini klien terlihat seperti orang yang tidur normal namun dalam kondisi trance. Untuk memahami trance lebih jauh, Anda bisa mengunjungi halaman kami berikut ini Memahami Kondisi Trance Dalam Hipnosis, Ciri-Ciri, Manfaat & Cara Mencapainya Itu dia ciri-ciri seseorang dalam kondisi trance yang bisa Anda lihat dengan mudah. Apabila berminat untuk mengenal lebih jauh tentang kondisi trance dan penerapannya dalam hipnosis, Anda bisa mengikuti pelatihan hipnotis IHA dengan cara menghubungi Admin di nomor 085329999633. Atau Klik tombol berikut ini Demikian artikel yang bisa saya bagikan, terima kasih sudah membaca dan semoga bermanfaat. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya ’
Jakarta Bila kesadaran digambarkan sebagai satu garis kontinum maka mindfulness dan trance berada di masing-masing ujung ekstrem. Mindfulness dan tranceadalah dua kondisi kesadaran yang berbeda dan selama ini tidak bisa disandingkan. Istilah mindfulness, dalam bahasa Inggris, berasal dari kata Pali, sati, yang artinya kesadaran, perhatian, ingatan, pengenalan, kejernihan pikiran. Sedangkan trance, atau lengkapnya hypnotic trance, adalah kondisi kesadaran yang berbeda dengan kondisi sadar normal altered state yang dialami oleh seseorang melalui bimbingan terapis. Hypnotic trance sendiri terdiri atas banyak lapis kesadaran. Perbedaan mendasar antara kondisi mindful dan trance terletak pada kesadaran yang aktif pada satu saat. Individu yang mindful sadar akan apa yang ia alami, rasakan, pikirkan, dan apa yang terjadi di sekelilingnya. Pikirannya benar-benar sadar. Sebaliknya kondisi tidak mindful seperti pikiran melayang ke masa lalu atau masa depan, mengunci pintu namun tidak ingat telah melakukannya, tidak ingat apakah sudah mematikan lampu atau belum, diajak bicara seseorang kemudian anda lupa apa yang baru dibicarakan, atau mengendarai mobil atau sepeda motor dan tanpa disadari telah tiba di tujuan, mencari kunci dan tidak menemukannya padahal kunci ada di depan mata, semua ini masuk dalam kategori trance. Kondisi trance memang sangat berbeda dengan kondisi mindful. Mindfulness merujuk pada perhatian yang netral terhadap pengalaman yang dialami oleh individu dari waktu ke waktu Kabat-Zinn, 1990/2005. Sedangkan Brown dan Ryan 2003 mendefiniskan mindfulness sebagai kondisi kesadaran penuh perhatian pada apa yang sedang terjadi di saat sekarang. Dalam kondisi trance, individu melepas kendali atas fungsi kritis pikirannya, lepas dari fungsi pengawasan kekinian pengalaman, dan teregresi ke proses berpikir primer di mana terdapat kebebasan dan keleluasaan pikiran dalam memunculkan berbagai bentuk gambaran mental, daya khayal, menerima segala sesuatu yang sebelumnya tidak rasional menjadi rasional, dan individu mengalami fenomena trance logic Orne, 1959. Para praktisi mindfulness sangat menghindari kondisi tidak mindful yang dijelaskan sebelumnya. Kondisi tidak mindful sangat tidak baik dan bisa merugikan. Ditinjau dari perspektif terapi, baik mindfulness dan trance masing-masing memiliki manfaat terapeutik. Keduanya dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk kebaikan individu tentunya dengan mengikuti prinsip yang berlaku untuk kedua kondisi kesadaran ini. Dalam terapi berbasis mindfulness klien dilatih untuk hanya melakukan pengamatan, menyadari, mengetahui, dan menerima aliran pengalaman dari waktu ke waktu, membiarkan pengalaman itu bergulir apa adanya, tidak masuk dan terlibat di dalam pengalaman itu, tidak melakukan pembatasan pada bentuk pikiran, perasaan, dan perilaku tertentu. Klien tidak dibimbing oleh terapis, klien tidak menerima sugesti tertentu, klien tidak masuk ke dalam kejadian atau pengalaman dan memrosesnya. Intinya, klien menerima apapun yang ia rasakan atau alami dengan hanya menyadari pengalamannya. Dengan demikian mindfulness mendorong pergeseran perhatian secara global, menggantikan perhatian yang sebelumnya melekat erat pada pengalaman, perasaan, bentuk pikiran tertentu. Mindfulness, menurut Sri Paññavaro Mahathera, dapat dilatih melalui metode meditasi. Salah satunya dengan memerhatikan napas, atau dengan mengamati pengalaman dan bagaimana pengalaman itu berlangsung tanpa memberikan pemaknaan, menghakimi, menilai, memberi nama atau label, melibatkan emosi, atau berusaha dengan sesuatu cara mengubah pengalaman itu. Mindfulness juga dapat dipraktikkan dan dilatih secara informal dalam keseharian dengan mengembangkan kesadaran menerima pengalaman internal maupun eksternal. Dalam berlatih meditasi, para meditator berlatih untuk selalu sadar, menyadari apapun yang ia rasakan, alami, pikirkan, atau yang terjadi di sekitar. Keefektifan dan manfaat mindfulness dalam konteks klinis terletak pada kemampuan kesadaran memutus response set yang mengendalikan diri individu. Response set adalah pola asosiasi terkondisi yang memfasilitasi pola perilaku, pola pikir, dan respon individu terhadap stimulus atau situasi tertentu. Response set dapat diaktifkan baik oleh stimuli internal maupun eksternal, seperti sugesti dan beragam sinyal yang berasal dari lingkungan. Mindfulness dapat memutus respon perilaku otomatis yang selama ini menguasai diri seseorang, baik disadari atau tidak, dan membuat individu menjadi sadar akan pola perilaku maladaptif yang ia alami atau lakukan. Pelatihan mindfulness pada klien akan memampukan klien menyadari dan menangkap pola perilaku yang relatif otomatis dan reaktif menjadi respon yang lebih terkendali Teasdale, Segal, dan Williams, 2003. Dengan lebih menggiatkan kesadaran tanpa kondisi, tidak menghakimi, mindfulness mengaktifkan proses perhatian pengawasan diri dan memberdayakan klien dalam membuat pilihan dan keputusan akan respon yang lebih adaptif dan konstruktif menggantikan respon maladaptif yang selama ini ia alami. Kesadaran yang menjadi landasan mindfulness terhadap pengamatan pasang surut pengalaman mencipta fondasi terapi dalam mengatasi pengaruh pikiran yang sifatnya mengganggu, bias kognitif, dan berbagai pengkondisian yang terjadi di masa sebelumnya yang menjadi penyebab masalah emosi dan perilaku maladaptif. Contohnya, individu yang sebelumnya akan marah besar saat mendapat kritik, dengan melatih mindfulness, ia dapat menyadari munculnya kemarahan, dapat mengamati kemarahan ini tanpa turut larut di dalamnya, dan selanjutnya mampu memilih opsi respon yang lebih konstruktif menggantikan respon marah maladaptif. Melatih mindfulness tentu butuh upaya serius dan berkelanjutan. Kita jarang bisa dalam kondisi mindful. Pikiran kita biasanya dipenuhi berbagai bentuk pikiran yang mengganggu atau sibuk memberi pendapat atas apa yang sedang terjadi pada satu saat. Kendala yang sering dialami praktisi mindfulness dalam melatih diri adalah pengaruh emosi intens, yang tersimpan di pikiran bawah sadar, yang dengan sangat cepat menguasai diri individu sehingga yang terjadi bukannya mindfulness tapi mind-full-ness di mana pikiran mind dipenuhi berbagai bentuk pikiran thought yang sangat mengganggu karena adanya emosi intens yang menyertai bentuk-bentuk pikiran ini. Untuk bisa masuk kondisi trance maka seseorang justru tidak boleh dalam kondisi mindful atau awas dan waspada. Mindful adalah ranah kerja dan aktivitas pikiran sadar dan trance adalah ranah pikiran bawah sadar. Ini adalah dua pikiran yang sangat berbeda fungsi dan cara kerjanya. Praktisi mindfulness yang ingin masuk trance perlu melepas, untuk sementara waktu, kondisi pikiran yang mindful dan mengikuti bimbingan terapis. Saat mindful kendali pikiran atas fungsi kritis menjadi sangat kuat. Terapis sangat sulit atau tidak bisa membimbing klien menembus faktor kritis pikiran sadarnya yang menjadi syarat mutlak untuk masuk kondisi trance. Itu sebabnya para meditator biasanya mengalami kesulitan untuk masuk kondisi trance dengan bimbingan terapis. Sebenarnya, saat mereka melakukan meditasi dan benar-benar fokus pada objek meditasi maka mereka juga masuk kondisitrance. Bedanya, saat mereka dibimbing oleh terapis, pikiran sadar mereka akan terus mengamati atau menyadari apapun yang diucapkan oleh terapis. Ini yang membuat mereka sulit masuk kondisi trance. Trance adalah kondisi di mana fungsi kritis pikiran sadar berhasil ditembus dan individu masuk ke pikiran bawah sadar untuk menemukan kejadian, peristiwa, pengalaman traumatik, atau berbagai program pikiran imprint yang menjadi akar masalah gangguan perilaku. Selanjutnya, bisa dengan bantuan terapis atau melakukannya sendiri, dengan teknik yang sesuai, akar masalah ini diproses hingga terjadi resolusi trauma menyeluruh dan tuntas. Masalah dikatakan telah selesai diproses saat emosi yang sebelumnya melekat pada pengalaman itu berhasil dinetralisir dan terjadi pemaknaan baru. Dari uraian di atas tampak dua perbedaan mendasar aplikasi mindfulness dan trance dalam mengatasi masalah. Dalam terapi berbasis mindfulness yang dikembangkan adalah kesadaran mengamati, menerima, tidak masuk ke dalam pengalaman, terjadi pemisahan tegas antara diri pengamat dan pengalaman disosiasi. Dan untuk bisa melakukan disosasi dengan baik dibutuhkan tidak hanya kekuatan kehendak, kekuatan konsentrasi, namun juga energi psikis yang besar untuk terus mempertahankan kondisi disosiasi. Apabila individu tidak kuat dalam mempertahankan kondisi disosiasi ini dan masuk atau tertarik masuk ke dalam pengalaman yang sedang diamati maka ia dapat mengalami trauma ulang dan ini akan semakin memperburuk kondisinya. Saat individu dapat melakukan pengamatan, hanya mengamati saja, terhadap kejadian atau pengalaman maka kekuatan cengkeraman dan pengaruh kejadian itu pada diri individu menjadi sirna. Emosi yang tadinya sangat intens melekat pada pengalaman semakin lama menjadi semakin lemah hingga akhirnya runtuh dan pengalaman itu hanya menjadi satu bentuk memori yang netral. Hal yang berbeda terjadi dalam pemanfaatan trance untuk hipnoterapi. Saat seseorang dalam kondisi trance, saat fungsi kritis pikiran sadar untuk sementara waktu tidak bekerja, ia dapat leluasa masuk ke pikiran bawah sadar, mengakses dan mengalami kembali asosiasi berbagai pengalaman yang mengganggu hidupnya revivifikasi dan memroses pengalaman ini hingga tuntas. Namun, dari pengalaman klinis, sebaiknya untuk memroses kejadian dengan muatan emosi yang intens hanya dilakukan dengan bantuan terapis, jangan dilakukan sendiri karena seringkali saat emosi muncul dan sepenuhnya dirasakan oleh individu kendali atas proses yang sedang ia alami menjadi lemah dan dapat berpengaruh buruk pada dirinya. Mindfulness dan trance dapat digunakan, secara gabungan, untuk mengatasi respon maladaptif dan membangun respon adaptif yang baru. Kedua kondisi kesadaran ini berbeda namun memiliki kesamaan, dalam konteks terapi, yaitu keduanya dapat mengubah perhatian atau persepsi untuk mencapai goal terapeutik. DR. Adi W. Gunawan, CCH. President of Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology Indonesia Leading Expert in Mind Technology President of Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia AHKI Facebook Adi W Gunawan Twitter adiwgunawan* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.